Majelis Tarjih dan Tajdid - Persyarikatan Muhammadiyah

Majelis Tarjih dan Tajdid
.: Home > Artikel

Homepage

ETOS KERJA DAN FILSAFAT CINA

.: Home > Artikel > Majelis
10 April 2012 14:16 WIB
Dibaca: 8223
Penulis :

ETOS KERJA DAN FILSAFAT CINA[*]

Oleh : HM Syarif Tanudjaja, SH

 

1.                 PENDAHULUAN

          Etos Kerja adalah perilaku khas suatu komunitas atau organisasi, mencakup motivasi yang menggerakkan, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode prilaku, sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, standar-standar sebagai perilaku positif yang lahir sebagai buah keyakinan fundamental dan komitmen total pada sehimpunan paradigma kerja yang integral.

Motivasi yang menggerakkan, karakteristik utama, spirit dasar, pikirna dasar, kode etik, kode moral, kode prilaku, sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, standar-standar tersebut dipengaruhi oleh falsafah Cina.

Tradisi pemikiran falsafah di Cina bermula sekitar abad ke-6 SM pada masa pemerintahan Dinasti Chou di Utara. Kon Fu Tze, Lao Tze, Meng Tze dan Chuang Tze dianggap sebagai peletak dasar dan pengasas falsafah Cina. Pemikiran mereka sangat berpengaruh dan membentuk ciri-ciri khusus bangsa Cina.

 Pada masa hidup mereka negeri Cina dilanda kekacauan yang nyaris tidak pernah berhenti. Pemerintahan Dinasti Chou mengalami perpecahan dan perang berkecamuk di antara raja-raja kecil yang menguasai wilayah yang berbeda-beda. Sebagai akibatnya rakyat sengsara, dihantui kelaparan dan ratusan ribu meninggal dunia disebabkan peperangan dan pemberontakan yang bertubi-tubi melanda

Dilatarbelakangi keadaan seperti itu falsafah Cina lebih banyak memusatkan perhatian pada persoalan politik, kenegaraan dan etika. Falsafah Cina berkecendrungan mengutamakan pemikiran praktis berkenaan masalah dan kehidupan sehari-hari. Dengan perkataan lain ia cenderung mengarahkan dirinya pada persoalan-persoalan dunia bukannya persoalan-persoalan neraka dan sorga, brsangkutan dengan peri kehidupan manusia masa kini, bukannya dengan peri kehidupannya dalam suatu dunia yang akan datang.

Para ahli sejarah pemikiran mengemukakan beberapa ciri yang muncul akibat kecenderungan tersebut:

Pertama, dalam pemikiran kebanyakan orang Cina antara teori dan pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian pemikiran spekulatif kurang mendapat tempat dalam tradisi falsafah Cina, sebab falsafah justru lahir karena adanya berbagai persoalan yang muncul dari kehidupan yang aktual.

Kedua,secara umum falsafah Cina bertolak dari semacam ‘humanisme’. Tekanan dan perhatian utama sebagian besar filosof Cina  pada persoalan kemanusiaan, peristiwa-peristiwa kemanusiaan.

Ketiga, dalam pemikiran filosof Cina etika dan spiritualitas (masalah keruhanian) menyatu secara padu. Etika dianggap sebagai intipati kehidupan manusia dan sekaligus tujuan hidupnya. Di lain hal konsep keruhanian diungkapkan melalui perkembangan jiwa seseorang yang menjunjung tinggi etika. Artinya spiritualitas seseorang dinilai melalui moral dan etikanya dalam kehidupan sosial, kenegaraan dan politik. Sedangkan inti etika dan kehidupan sosial ialah kesalehan dan kearifan.

Keempat, meskipun menekankan pada persoalan manusia sebagai makhluq sosial, persoalan yang bersangkut-paut dengan pribadi atau individualitas tidak dikesampingkan. Namun demikian secara umum falsafah Cina dapat diartikan sebagai ‘Seni hidup bermasyarakat secara bijak dan cerdas’. Kesetaraan, persamaan dan kesederajatan manusia mendapat perhatian besar. Menurut para filosof Cina keselarasan dalam kehidupan sosial hanya bisa dicapai dengan menjunjung tinggi persamaan, kesetaraan dan kesederajatan itu.

Kelima, falsafah Cina secara umum mengajarkan sikap optimistis dan demokratis. Filosof Cina pada umumnya yakin bahwa manusia dapat mengatasi persoalan-persoalan hidupnya dengan menata dirinya melalui berbagai kebijakan praktis serta menghargai kemanusiaan. Sikap demokratis membuat bangsa Cina toleran terhadap pemikiran yang anekaragam dan tidak cenderung memandang sesuatu secara hitam putih.

Keenam, agama dipandang tidak terlalu penting dibanding kebijakan berfalsafah. Mereka menganjurkan masyarakat mengurangi pemborosan dalam penyelenggaraan upacara keagamaan atau penghormatan pada leluhur.

Ketujuh, penghormatan terhadap kemanusiaan dan individu tampak dalam falsafah hukum dan politik. Pribadi dianggap lebih tinggi nilainya dibanding aturan-aturan formal dan abstrak dari hukum, undang-undang dan etika. Dalam memandang sesuatu tidak berdasarkan mutlak benar dan mutlak salah, jadi berpedoman pada relativisme nilai-nilai.

Kedelapan, dilihat dari sudut pandang intelektual: Para filosof Cina berhasil membangun etos masyarakat Cina seperti mencintai belajar dan mendorong orang gemar melakukan penelitian mendalam atas segala sesuatu sebelum memecahkan dan melakukan sesuatu. Demikianlah pengetahuan dan integritas pribadi merupakan tekanan utama falsafah Cina. Aliran pemikiran, teori dan metodologi apa saja hanya bisa mencapai sasaran apabila dilaksanakan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan luas dan integratitas pribadi yang kokoh.

Dalam upaya melihat bahwa teori dan kehidupan praktis tidak dapat dipisahkan, kita perlu melihat bagaimana orang Cina memahami hubungan antara teori dan praktek dalam suatu pemikiran yang bersifat falsafah. Kita juga perlu mengetahui bagaimana teori dihubungkan dengan kehidupan nyata. Ada dua perkara yang harus dikaji dan ditelusuri secara mendalam: Pertama, konsep umum tentang ‘kebenaran’ dalam falsafah Cina; kedua, kemanusiaan yang dilaksanakan dalam kehidupan nyata dan kemanusiaan yang diajarkan para filosof Cina dalam sistem falsafah mereka.

Secara umum pula pemahaman terhadap dua perkara tersebut ditafsirkan dari Konfusianisme, yaitu ajaran falsafah yang dikembangkan dari pemikiran Konfusius. Konfusianisme sendiri berkembang menjadi banyak aliran, di antaranya kemudian dikembangkan menjadi semacam agama, dengan kaedah dasar dari ajaran etikanya yang dirujuk pada pandangan atau ajaran Konfusius.

Sebagai ajaran falsafah pula, Konfusianisme telah berperan sebagai landasan falsafah pendidikan di Cina selama lebih kurang 2000 tahun lamanya.

 

2.                 ETOS KERJA DAN FALSAFAH CINA

 

Etos kerja dan falsafah Cina tersebut terefleksi dalam tradisi dan budaya bangsa Cina di dunia perdagangan atau bisnis sehingga orang berangapan orang Cina  memiliki kemampuan bawaan untuk  berdagang. Anggapan ini tidaklah benar. Berdagang merupakan jenis keterampilan dan dapat dipelajari. Siapapun yang menjlankan segala petuah dagang yang digunakan oleh orang Cina, niscaya merekapun dapat berhasil  menguasai bidang perdagangan.

 

Sebenarnya, tidak ada rahasia dan petuah khusus yang dapat membuat orang berhasil di bidang perdagangan. Segala potensi itu ada dalam diri kita, setiap orang.Hanya saja banyak orang tidak menyadarinya dan menyia-nyiakan potensi tersebut.

 

Orang Cina cenderung memilih berdagang karena bidang ini tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan tempat. Selain bebas, kegiatan perdagangan juga menyediakan ruang yang luas bagi seseorang untuk mengembangkan kemampuannya.

  

Etos kerja orang Cina tersebut adalah sebagai berikut :

 

Semangat untuk berkembang, orang itu harus hijrah bukan saja secara fisik melainkan juga mental, jiwa dan mendekatkan diri pada-Nya. Keinginan seseorang untuk merubah adalah kunci utama keberhasilannya. Semangat untuk meningkatkan taraf hidup dan  keyakinan pada perdagangan sebagai mekanisme untuk mengukuhkan kedudukan ekonomi pribadi, keluarga, komunitas dan bangsanya.

Jika ingin lebih dari orang lain, tidak ada pilihan lain kecuali bekerja dengan lebih giat dan rajin.Seluruh usaha, tenaga dan pikiran dicurahkan untuk mencapai tujuan tersebut, tidak pernah lari dan menyimpang dari tujuan itu serta tidak pernah beerhenti ketika telah berhasil mencapai tujuan tersebut. Bahwa hanya dengan kerja keras dan berani membuka peluang yang disertai sikap serius dan mempunyai komitmen untuk menyukseskan perdagangannya.

Keuntungan yang diperoleh sebaiknya tidak dibelanjakan, harus digunakan untukmenambah modal kerja dan investasi.

Harus mengetahui bagaimana membedakan antara urusan pribadi dan kegiatan perdagangan, keduanya tidak boleh dicampuradukkan.

Sekadar pintar berdagang tidak memberikan hasil yang maksimal.Harus didukung dengan sikap agrresif, berani, than banting, semangat dan rela berjuang untuk  segala peluang yang ada.

Akan merasa rendah diri jika mereka gagal hidup mandiri dan hanya mendapat gaji spanjang hidupnya. Selagi seseorang itu bekrja dengan menadapat gaji selama itulah dia tidak bisa menjadi kaya dan meningkatkan kedudukan sosialnya.

Sebagian dari keuntungan harus disimpan untuk mengmbangkan kegiatan perdagangan dan menghadapi kemungkinan apapun di luar dugaan. Sebagian lagi untuk modal kerja.

Jika ketekunan digabungkan dengan tekad yang kuat dan diperkuat dengan kesabaran niscaya akan menjadi asset yang berharga dalam perdagangan.

 

 

3.                 PENUTUP

 

Beberapa tips suksesnya bisnis orang Cina dengan etos kerja tersebut di atas :

 

1)                Bekerja Keras, kata ini ibarat kata keramat yang mendorong pedagang Cina berhasil.

2)                Kerugian jangka pendek merupakan jalan yang dilalui untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang.

3)                Emas yang tersembunyi hanya dapat dikeluarkan jika seseorang itu berusaha mencari dan menggalinya

 

 

 

Kepustakaan :

1.     Soejono Soemargono, “Sejarah Ringkas dan Filsafat Cina”

2.     Ann Wan Seng, “ Rahasia Bisnis Cina”

3.     Abdul Hadi WM, Semangat dan Kecenderungan Filsafat Cina  



[*]Disampaikan pada Seminar Nasional: “Transformasi Teologi dan Reaktualisasi Etos Kerja Islam Sebagai Respon Terhadap Pergesaran Peta Geoekonomi, Geopolitik dan Geobudaya Global ke Cina” Majelis Tarjih Dan Tajdid PP Muhammadiyah Yogyakarta, 6 Agustus 2011


Tags: etos , cina , tarjih , muhammadiyah
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website